DTC Netconnect logo

Ketika Selat Hormuz Bergejolak: Mengapa Keberlanjutan Kini Bermakna Ketahanan Ekonomi

Data Center Solution

Sep 21, 2026

Ketika harga minyak Brent kembali melampaui USD 100 per barel pada awal September 2026, itu terjadi untuk pertama kalinya sejak Juli, dipicu pertempuran baru di Timur Tengah yang menambah kekhawatiran gangguan pasokan energi dunia. Angka tersebut bukan sekadar berita pasar komoditas. Bagi pemilik data center, ISP, system integrator, dan konsultan, angka itu menandai pergeseran makna keberlanjutan: dari agenda lingkungan dan laporan tahunan menjadi soal keamanan energi, kepastian biaya, dan daya saing.

Jawaban singkat: Krisis Selat Hormuz menunjukkan bahwa efisiensi energi, diversifikasi pasokan listrik, dan energi terbarukan berfungsi sebagai pelindung dari guncangan harga dan pasokan. Operator infrastruktur digital yang memperlakukan keberlanjutan sebagai strategi ketahanan akan lebih mampu menjaga margin, ketersediaan layanan, dan kepercayaan pelanggan.

Artikel ini memakai kerangka GCAO, yaitu Goal (tujuan), Context (konteks), Action (aksi), dan Outcome (hasil). Tujuannya membantu IT profesional, pemilik data center, ISP, system integrator, dan konsultan data center menerjemahkan krisis energi global menjadi keputusan operasional. Setelah membaca, Anda diharapkan mampu menjawab tiga pertanyaan. Seberapa besar paparan infrastruktur Anda terhadap guncangan energi? Langkah apa yang paling cepat menurunkan risiko itu? Bagaimana membuktikan hasilnya kepada manajemen, investor, dan pelanggan?

Dari Krisis Pasokan ke Krisis Daya Saing

Mengapa Selat Hormuz begitu menentukan

Sebelum konflik, sekitar 20 juta barel minyak melintasi selat ini setiap hari, setara sekitar seperlima konsumsi minyak dunia. Lonjakan harga pertama terjadi pada Maret, ketika Brent naik lebih dari 9 persen dalam sehari dan bertahan di atas USD 100 setelah Iran menyatakan penutupan efektif selat akan berlanjut. Wood Mackenzie mengingatkan bahwa penutupan selat turut mengancam sekitar 20 persen pasokan LNG dunia. IEA menyebut gangguan ini sebagai yang terbesar dalam sejarah pasar minyak dan mendorong para anggotanya menyepakati pelepasan 400 juta barel cadangan strategis. Harga Brent kemudian melampaui USD 110 pada Mei, dan pada 17 September ditutup di USD 104,82 per barel.

Asia Tenggara berada di garis depan

ASEAN membutuhkan sekitar 5 juta barel per hari tetapi hanya memproduksi sekitar 2 juta, sehingga sekitar 3 juta barel harus diimpor setiap hari. Penutupan selat mengganggu langsung hingga 28 persen konsumsi energi akhir kawasan dan menambah biaya impor sebesar USD 3,36 miliar per bulan di atas perkiraan awal 2026. Bagi pengimpor energi seperti Filipina dan Thailand, kenaikan harga minyak langsung menjalar ke biaya listrik, manufaktur, transportasi, dan rumah tangga.

Mengapa keberlanjutan berubah makna

Sebelum krisis, keberlanjutan lazim diukur lewat emisi, sertifikasi, dan laporan tahunan. Kini pelanggan korporasi dan investor bertanya hal yang lebih praktis: berapa lama fasilitas tetap beroperasi saat pasokan terganggu, dan berapa persen biaya energi yang sudah terkunci? Efisiensi dan energi terbarukan menjawab pertanyaan itu karena keduanya mengurangi ketergantungan pada bahan bakar impor yang harganya tidak dapat dikendalikan.

Dimensi daya saing terlihat jelas dalam angka. Pada Maret hingga Agustus 2026, Asia Timur menanggung tambahan biaya bersih bahan bakar fosil sebesar USD 49 miliar, sedangkan Timur Tengah, Amerika Utara, dan Rusia justru memperoleh keuntungan dari harga yang lebih tinggi. Ekonomi yang efisien dan punya sumber energi beragam menanggung beban lebih ringan. Di sinilah keberlanjutan bertemu ketahanan ekonomi.

Mengapa data center ikut terdampak

Wood Mackenzie membandingkan skala gangguan LNG ini dengan pemangkasan gas Rusia ke Eropa pada 2022, ketika operator berkontrak listrik jangka panjang relatif terlindungi, sedangkan operator dengan harga spot atau kontrak pendek menanggung tekanan berat. Permintaan komputasi memang tidak surut, tetapi margin tertekan dan pembaruan PPA menjadi lebih sulit. Rantai pasok pun ikut goyah, sebab Qatar memasok sekitar 30 persen helium dunia yang dibutuhkan untuk pembuatan cip. Sementara itu, konsumsi listrik data center global diproyeksikan berlipat dua menjadi sekitar 945 TWh pada 2030, dengan server akselerator penopang AI tumbuh sekitar 30 persen per tahun. Kajian ISAS menambahkan bahwa perang ini dapat menghambat pertumbuhan infrastruktur AI di Asia lewat kenaikan biaya energi dan menguatnya kekhawatiran keberlanjutan akibat penggunaan batu bara.

Posisi Indonesia

IDPRO memperkirakan kapasitas data center Indonesia sekitar 520 MW pada Juni 2026, dan pipeline hampir 2 GW belum otomatis menjadi kapasitas operasional. Sumber lain menyebut 600 hingga 650 MW pada semester pertama 2026, sehingga perbandingan antarnegara perlu memakai satu metodologi. RUPTL 2025 hingga 2034 menargetkan tambahan pembangkit 69,5 GW, dengan sekitar 42,6 GW berasal dari energi terbarukan. Pemerintah juga mendorong PLTS hingga 100 GW, sementara permintaan listrik data center diperkirakan tumbuh sekitar 20 persen per tahun. Namun, pembangunan pembangkit harus berjalan beriringan dengan transmisi, gardu induk, dan redundansi jaringan. Peluangnya besar, tetapi kesiapan energi menjadi pembeda. JLL Indonesia mencatat bahwa investasi asing langsung pada kuartal kedua 2026 naik 7 persen secara tahunan, dengan jasa yang terkait data center sebagai sektor terbesar kedua. Modal mengalir ke Indonesia, tetapi modal yang sama akan memilih lokasi dengan energi paling andal dan terjangkau.

Langkah Nyata Sesuai Peran

Pemilik data center

Ujilah model keuangan pada skenario Brent USD 100 dan USD 120, karena Goldman Sachs menilai peluang Brent melampaui USD 120 meningkat seiring serangan terhadap pelayaran. Prioritaskan kontrak listrik jangka panjang dan porsi energi terbarukan melalui PPA agar biaya lebih terprediksi. Menurut JLL Indonesia, pelaku industri termasuk data center harus memakai sekitar 70 persen listrik dari PLN, sedangkan sisanya dapat berasal dari energi terbarukan kelolaan IPP, sehingga struktur kontrak perlu dirancang sejak awal. Libatkan PLN sejak tahap perencanaan. Contohnya, PLN menyiapkan pasokan 788 MVA untuk fasilitas CGK4 BDx Indonesia di Jatiluhur, Jawa Barat. Turunkan intensitas energi dengan tolok ukur PUE: Singapura mempertahankan PUE 1,25 hingga 1,3. Tinjau pula baterai, PLTS, rantai pasok bahan bakar genset, dan lama otonomi cadangan.

ISP

Setiap titik kehadiran, stasiun pendaratan kabel, dan node edge mengonsumsi listrik yang harganya tidak lagi layak diasumsikan stabil. Lakukan audit daya per lokasi, konsolidasikan node yang tidak efisien, dan pilih perangkat dengan konsumsi daya rendah per Gbps. Jadikan efisiensi daya sebagai kriteria pengadaan. Negosiasikan kontrak kolokasi yang jelas soal penerusan biaya energi, serta tambah rute upstream dan peering agar layanan tetap terjaga bila satu lokasi tertekan.

System integrator

Jadikan biaya total kepemilikan, bukan hanya belanja modal, sebagai dasar setiap proposal. Siapkan desain yang siap pendinginan cair untuk beban AI, pasang pemantauan daya berbasis DCIM, dan tuliskan target efisiensi dalam SLA. Antisipasi keterlambatan serta kenaikan harga komponen, karena gangguan Hormuz dapat menjalar ke pasokan semikonduktor, tembaga, aluminium, baja, dan helium. Audit energi dan retrofit efisiensi juga dapat menjadi lini layanan baru bagi pelanggan yang tertekan biaya listrik.

Konsultan data center

Susun penilaian risiko energi yang mencakup struktur kontrak, bauran pembangkit, dan lokasi. Ingatkan klien bahwa sekitar 80 persen permintaan lahan industri kini berasal dari perusahaan data center, dengan kebutuhan lahan 10 hingga 30 hektare per fasilitas, sehingga pemilihan lokasi harus menimbang lahan dan akses listrik secara bersamaan. Kapasitas pembangkit saja tidak cukup; akses transmisi dan redundansi jaringan sama menentukan. Ubah laporan keberlanjutan klien menjadi laporan ketahanan: berapa jam operasi aman, berapa persen biaya energi terkunci, dan berapa penghematan dari efisiensi.

IT profesional

Lakukan right sizing, matikan server menganggur, jadwalkan beban batch pada jam beban rendah, dan ukur biaya energi per beban kerja. Siapkan rencana pemindahan beban antarlokasi bila satu fasilitas mengalami pembatasan daya. Karena server akselerator tumbuh cepat, perencanaan kapasitas berbasis data energi menjadi kompetensi inti.

Hasil yang Terukur dan Arah ke Depan

Gunakan enam indikator: PUE, persentase biaya energi yang terkunci kontrak, biaya energi per kW terpakai, porsi energi terbarukan, lama otonomi cadangan, dan hasil uji tekan skenario. Laporkan secara triwulanan kepada manajemen agar keberlanjutan masuk ke ruang rapat sebagai angka keuangan, bukan slogan. Untuk memulai, targetkan audit daya dan kontrak dalam 30 hari, uji tekan serta renegosiasi dalam 60 hari, dan rencana investasi efisiensi dan energi terbarukan dalam 90 hari.

Perlu diingat bahwa energi terbarukan bukan jawaban tunggal. IEA memproyeksikan separuh pertumbuhan permintaan data center global dipenuhi energi terbarukan yang ditopang penyimpanan dan jaringan listrik, sementara sumber yang dapat diatur, terutama gas, tetap berperan penting. Ketahanan lahir dari portofolio yang seimbang, bukan dari satu sumber.

Jangan menunggu harga kembali normal. Pada Agustus, Brent sempat berada di bawah USD 90, tetapi lonjakan kembali terjadi pada September. Pasar pun sulit memastikan berapa volume minyak yang sungguh melintas di selat. Ketidakpastian inilah yang menjadi kondisi normal baru, dan operator yang sudah berinvestasi pada efisiensi, kontrak terprediksi, serta energi terbarukan akan bergerak lebih tenang ketika guncangan berikutnya datang.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Mengapa harga minyak di atas USD 100 per barel penting bagi data center?

Harga minyak mencerminkan guncangan energi yang menjalar ke LNG, ongkos kirim, inflasi, dan tarif listrik. Dampaknya pada setiap operator bergantung pada bauran pembangkit dan struktur kontrak listrik, sehingga perlu diuji per fasilitas.

Apakah keberlanjutan hanya soal emisi?

Tidak. Efisiensi dan energi terbarukan juga menurunkan ketergantungan pada bahan bakar impor dan membuat biaya lebih terprediksi. Itulah yang dimaksud ketahanan ekonomi.

Apakah permintaan komputasi akan turun bila energi mahal?

Kecil kemungkinan. Permintaan komputasi cenderung bertahan, tetapi margin operator tertekan. Karena itu, pemenangnya adalah operator dengan biaya energi paling terkendali.

Apa langkah pertama yang paling cepat?

Audit konsumsi daya dan kontrak listrik, lalu jalankan uji tekan pada skenario harga energi tinggi.

Penutup

Krisis Selat Hormuz memperlihatkan bahwa keberlanjutan yang diukur dalam rupiah, jam operasi, dan kepercayaan pelanggan adalah keunggulan bersaing. Mulailah dari satu langkah nyata pekan ini: petakan konsumsi daya dan kontrak listrik Anda, lalu bicarakan hasilnya dengan tim keuangan dan manajemen.

Sumber

  1. The Hill (thehill.com): Crude oil prices jump as tensions rise near Strait of Hormuz
  2. Modern Diplomacy (moderndiplomacy.eu): Could Strait of Hormuz Uncertainty Push Oil Prices Above $100 a Barrel?
  3. Yahoo Finance (finance.yahoo.com): Oil stays above $100 a barrel amid Iran's stranglehold on Strait of Hormuz, dan Analysts See $100 Oil on Strait of Hormuz Disruption
  4. Trading Economics (tradingeconomics.com): Brent Crude Tests $102
  5. CNBC (cnbc.com): ulasan harga minyak 11 Agustus 2026 tentang kebuntuan Hormuz; Brent crude oil tops $101 to close at highest level since May as fighting escalates in Persian Gulf; Oil prices fall as Saudi Arabia reportedly offers more crude via Hormuz after pipeline attack
  6. Centre for Research on Energy and Clean Air (energyandcleanair.org): What the Hormuz crisis has cost fossil fuel importers, March to August 2026
  7. ORF (orfonline.org): ASEAN's Energy Vulnerability and the Impact of the Hormuz Crisis
  8. World Economic Forum (weforum.org): How the Middle East war hits Asia's energy transition
  9. The Southeast Asia Desk (thesoutheastasiadesk.com): Strait of Hormuz Crisis: Why Southeast Asia Faces Growing Energy Risks
  10. Capacity (capacityglobal.com): Oil shock, gas crunch: The Middle East crisis hits data centre power
  11. ISAS, National University of Singapore (isas.nus.edu.sg): ISAS Brief 1357, The Iran War: Impact on AI Growth in India and Asia
  12. IEA (iea.org): Energy and AI, Executive summary, dan Energy demand from AI
  13. Bisnis.com (teknologi.bisnis.com): PLN Siap Kejar Lonjakan Kebutuhan Listrik Data Center Indonesia
  14. IDNFinancials (idnfinancials.com): Indonesia's data centre to match Johor, but power control is a hurdle, dan Indonesia tampung spillover data center, siapkah listriknya?
  15. Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin Universitas Airlangga (ftmm.unair.ac.id): Lonjakan Kebutuhan Infrastruktur Data Center dan Stabilitas Grid Listrik
  16. Fin.co.id (news.fin.co.id): Dorong PLTS 100 GW, Pemerintah Siapkan Energi Bersih untuk Ledakan Data Center
  17. Listrik Indonesia (listrikindonesia.com): PLN Pasok Listrik 1,2 GW untuk Ekspansi Data Center di RI