Toshiba dan Jejak Pabrikan Storage Merebut Pasar AI
Oct 20, 2026
Perlu diperjelas sejak awal, ada dua entitas berbeda yang sama sama berasal dari nama Toshiba. Pertama, Toshiba Electronic Devices & Storage Corporation, yang fokus pada hard disk drive atau HDD. Kedua, Kioxia, dulu bernama Toshiba Memory, produsen NAND flash yang kini telah melantai di Bursa Tokyo sejak akhir 2024, tepatnya pada 18 Desember 2024. Keduanya berbagi akar sejarah yang sama namun kini berjalan dengan arah bisnis yang jauh berbeda, dan kekeliruan menyamakan keduanya masih sering terjadi di kalangan pembeli maupun pemberitaan media.
Toshiba Electronic Devices & Storage Corporation dikenal sebagai salah satu dari tiga produsen HDD nearline atau enterprise terbesar dunia, bersama Western Digital dan Seagate. Ketiganya kini menjadi satu satunya pemain yang bertahan di industri HDD global setelah konsolidasi panjang selama dua dekade. Bagi profesional IT, pemilik data center, penyedia layanan internet, system integrator, maupun konsultan data center, memahami arah ketiga pabrikan ini bukan sekadar wawasan tambahan, melainkan informasi yang berkaitan langsung dengan perencanaan kapasitas, strategi pengadaan, dan arsitektur penyimpanan untuk tahun tahun mendatang.
Toshiba Bukan Kioxia, Ini Perbedaannya
Toshiba Memory Corporation lahir pada 2017 ketika Toshiba Corporation melepas unit bisnis NAND flash untuk menutup lubang keuangan akibat kerugian besar di divisi tenaga nuklirnya. Konsorsium yang dipimpin Bain Capital mengambil alih mayoritas saham dengan nilai transaksi sekitar 18 miliar dolar AS, sementara Toshiba Corporation mempertahankan sebagian kepemilikan. Perusahaan ini berganti nama menjadi Kioxia pada 2019 dan baru resmi menjadi perusahaan terbuka pada akhir 2024 setelah proses penawaran umum perdana yang tertunda berkali kali sejak 2020. Saat melantai, valuasi Kioxia hanya sekitar 5,2 miliar dolar AS, jauh di bawah nilai akuisisi awal, mencerminkan siklus naik turun pasar memori flash yang keras.
Sementara itu, bisnis HDD Toshiba tidak pernah dilepas dan tetap berada di bawah Toshiba Electronic Devices & Storage Corporation. Inilah entitas yang memproduksi hard disk drive untuk kebutuhan server, storage array, sistem pengawasan video, dan kini, pusat data yang menopang beban kerja kecerdasan buatan. Dengan kata lain, ketika seseorang menyebut Toshiba storage dalam konteks data center AI, yang dimaksud umumnya adalah bisnis HDD ini, bukan Kioxia yang bermain di ranah NAND flash dan solid state drive.
Peta Persaingan Tiga Pemain Terakhir
Industri HDD global kini hanya diisi tiga pabrikan, Western Digital, Seagate, dan Toshiba. Berdasarkan data pengiriman unit pada kuartal pertama 2025, Western Digital memimpin dengan pangsa sekitar 42 persen, disusul Seagate sekitar 40 persen, sementara Toshiba berada di kisaran 17 hingga 18 persen. Jika diukur dari sisi kapasitas penyimpanan yang dikapalkan, posisi Toshiba bahkan lebih kecil lagi, sedikit di atas 10 persen menurut laporan terbaru pertengahan 2026, sementara Western Digital dan Seagate masing masing menguasai lebih dari 40 persen.
Kesenjangan ini bukan tanpa alasan. Toshiba selama bertahun tahun memilih jalur investasi yang lebih konservatif dibanding dua pesaingnya, dan fasilitas produksinya terkonsentrasi di Filipina melalui anak usahanya, Toshiba Information Equipment Philippines. Namun posisi sebagai pemain ketiga terkecil justru menjadi titik tolak strategi baru Toshiba ketika permintaan HDD berkapasitas besar meledak akibat pembangunan infrastruktur AI secara masif di seluruh dunia.
Investasi 60 Miliar Yen untuk Rebutan Pasar AI
Pada awal Oktober 2026, Toshiba mengumumkan rencana investasi sekitar 60 miliar yen atau setara 380 juta dolar AS untuk melipatgandakan kapasitas produksi HDD yang ditujukan bagi data center AI hingga tahun fiskal 2027. Ini menjadi investasi besar pertama Toshiba di lini HDD dalam sekitar lima tahun terakhir, dan sebagian besar dananya dialokasikan untuk memperluas fasilitas di Filipina.
Target Toshiba cukup ambisius, menaikkan pangsa pasar berdasarkan kapasitas dari sedikit di atas 10 persen menjadi sekitar 30 persen dalam jangka menengah. Lini produksi baru dirancang mampu menghasilkan drive dengan kapasitas per unit hingga 40 persen lebih tinggi dari generasi sebelumnya, membuka jalan bagi produksi massal HDD kelas 65 terabita pada 2030 dan kelas 100 terabita pada periode berikutnya. Momentum ini terlihat nyata pada Oktober 2026 ketika Toshiba Information Equipment Philippines merayakan ulang tahun ke tiga puluh sekaligus pengiriman pertama dari lini produksi HDD nearline yang telah diperluas di fasilitas Laguna Technopark, yang sebelumnya lebih banyak memproduksi HDD untuk komputer personal.
Teknologi di Balik Pertambahan Kapasitas
Peningkatan kapasitas HDD saat ini tidak lagi mengandalkan perbaikan bertahap atas teknologi perpendicular magnetic recording atau PMR yang sudah mentok di kisaran 15 hingga 16 terabita. Tiga pabrikan mengambil jalan berbeda untuk melampaui batas tersebut. Seagate memilih heat assisted magnetic recording atau HAMR, yang menggunakan laser untuk memanaskan media perekaman sesaat sebelum data ditulis. Western Digital mengombinasikan energy assisted perpendicular magnetic recording dengan teknologi OptiNAND yang memanfaatkan chip flash tambahan, sembari tetap menyimpan opsi HAMR dan MAMR untuk generasi mendatang.
Toshiba secara konsisten memilih microwave assisted magnetic recording atau MAMR sebagai jalur utamanya. Teknik Flux Control MAMR, yang disingkat FC MAMR, digunakan pada drive kelas 18 terabita seperti seri MG09, sementara varian yang lebih matang bernama Microwave Assisted Switching MAMR atau MAS MAMR disiapkan untuk kapasitas di atas 20 terabita. Prinsip kerjanya, osilator spin torque pada kepala baca tulis memancarkan gelombang mikro berfrekuensi 20 hingga 40 gigahertz untuk melunakkan koersivitas media perekaman sesaat sebelum data ditulis, sehingga kerapatan data bisa ditingkatkan tanpa mengorbankan stabilitas bit. Keunggulan yang sering disorot dari pendekatan ini adalah suhu operasional yang lebih dingin dibanding HAMR, sebuah faktor yang relevan langsung bagi efisiensi pendinginan ruang data center berskala besar. Toshiba sendiri pernah memaparkan peta jalan yang menargetkan kapasitas 35 terabita sebelum akhir tahun fiskal 2024 dan melampaui 40 terabita pada 2026, dicapai lewat penambahan lapisan piringan hingga sebelas lapis dikombinasikan dengan teknologi perekaman hak milik tersebut.
Mengapa AI Membuat HDD Nearline Jadi Barang Rebutan
Kebutuhan penyimpanan untuk infrastruktur AI tumbuh jauh lebih cepat dari perkiraan banyak analis beberapa tahun lalu. Lembaga riset penyimpanan Coughlin Associates memperkirakan total permintaan kapasitas penyimpanan global pada 2026 mencapai sekitar 1.654 exabita tanpa memperhitungkan dorongan AI, ditambah sekitar 363 exabita permintaan tambahan yang murni didorong oleh pembangunan infrastruktur AI, atau setara 18 persen dari total pengiriman kapasitas tahun ini. Porsi ini diproyeksikan melonjak menjadi 43 persen pada 2028 dan 58 persen pada 2030. Hingga kini, lebih dari 85 persen data yang tersimpan di data center masih berada di HDD, karena SSD berbasis NAND flash lebih banyak dipakai untuk data panas yang membutuhkan akses cepat, sementara data pelatihan lama, log pelatihan, dan arsip hasil inferensi AI lebih ekonomis disimpan di HDD nearline.
Tekanan permintaan ini sudah terasa nyata di pasar. Western Digital mengonfirmasi kapasitas produksi HDD untuk tahun 2026 praktis telah habis terjual ke pelanggan pelanggan utamanya, dengan sejumlah kontrak bahkan sudah mengunci pasokan hingga 2027 dan 2028. Lembaga riset TrendForce turut mencatat kelangkaan pasokan HDD nearline akibat lonjakan permintaan inferensi AI, memaksa sejumlah penyedia layanan cloud mempertimbangkan penggunaan SSD QLC berkapasitas besar bahkan untuk data dingin, sesuatu yang sebelumnya dianggap tidak ekonomis. Akibat langsung dari situasi ini adalah harga HDD berkapasitas besar naik tajam dan waktu tunggu pengiriman untuk drive kelas tertinggi memanjang hingga mendekati satu tahun.
Apa Artinya Bagi IT Profesional, Pemilik Data Center, ISP, System Integrator, dan Konsultan
Pergeseran ini membawa konsekuensi praktis yang perlu segera disikapi oleh pembaca yang bekerja langsung di lapangan.
Pertama, perencanaan kapasitas penyimpanan kini wajib dilakukan jauh lebih awal dari kebiasaan lama. Ketika pemasok sekelas Western Digital sudah mengunci pasokan hingga 2028, pemilik data center dan ISP yang baru mulai merancang ekspansi tahun depan berisiko menghadapi antrean panjang atau harga yang kurang kompetitif.
Kedua, diversifikasi pemasok menjadi strategi mitigasi risiko yang masuk akal. Ekspansi agresif Toshiba di Filipina, yang menyasar langsung segmen AI data center, membuka opsi tambahan bagi system integrator dan konsultan yang selama ini terlalu bergantung pada dua pemasok dominan. Mengevaluasi ulang hubungan dengan pabrikan ketiga ini, termasuk memahami roadmap kapasitas dan teknologi MAMR miliknya, patut masuk daftar kerja tim pengadaan.
Ketiga, arsitektur penyimpanan berjenjang semakin relevan untuk ditegaskan dalam setiap proposal desain data center baru. SSD tetap menjadi pilihan untuk data panas dan beban kerja performa tinggi, sementara HDD nearline berkapasitas besar tetap menjadi tulang punggung ekonomis untuk data dingin dan hangat, termasuk dataset pelatihan lama, log inferensi, dan arsip video dari sistem pengawasan berbasis AI yang kini juga digarap serius oleh Toshiba lewat lini drive khusus pengawasan. Memahami keseimbangan biaya per terabita antara kedua jenis media ini akan sangat menentukan total biaya kepemilikan infrastruktur AI dalam beberapa tahun mendatang.
Keempat, tekanan harga dan keterbatasan pasokan sebaiknya mulai dikomunikasikan secara transparan kepada klien atau manajemen sejak tahap perencanaan anggaran, bukan saat proyek sudah berjalan. Konsultan dan system integrator yang mampu menjelaskan dinamika pasar storage global, termasuk posisi Toshiba, Western Digital, dan Seagate, akan memiliki nilai tambah dibanding yang hanya menawarkan spesifikasi teknis semata.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah Toshiba HDD sama dengan Kioxia?
Tidak. Toshiba Electronic Devices & Storage Corporation memproduksi HDD, sementara Kioxia adalah produsen NAND flash yang telah berpisah dari Toshiba sejak 2017 dan kini menjadi perusahaan publik tersendiri di Bursa Tokyo.
Berapa kapasitas HDD terbesar yang ditargetkan Toshiba?
Toshiba menargetkan produksi massal HDD kelas 65 terabita pada 2030, dengan rencana lanjutan menuju kelas 100 terabita pada periode setelahnya, seiring perluasan teknologi MAMR dan penambahan lapisan piringan.
Mengapa harga HDD nearline naik tajam belakangan ini?
Lonjakan permintaan dari pembangunan infrastruktur AI, terutama untuk menyimpan dataset pelatihan, log inferensi, dan arsip data berskala exabita, membuat pasokan HDD berkapasitas besar dari tiga pabrikan yang tersisa tidak mampu mengimbangi permintaan, sehingga harga naik dan waktu tunggu memanjang.
Penutup
Perebutan pasar HDD untuk data center AI bukan lagi persaingan tiga pabrikan yang berjalan landai seperti dekade sebelumnya. Toshiba kini memasang target yang jauh lebih agresif, didorong oleh kenyataan bahwa permintaan penyimpanan untuk AI tumbuh lebih cepat dari kapasitas produksi yang tersedia di seluruh industri. Bagi IT profesional, pemilik data center, ISP, system integrator, dan konsultan, menyimak arah investasi, teknologi, dan roadmap kapasitas dari Toshiba, Western Digital, dan Seagate bukan lagi sekadar urusan membaca berita teknologi, melainkan bagian langsung dari strategi perencanaan infrastruktur yang akan menentukan daya saing layanan mereka dalam beberapa tahun ke depan.

