DTC Netconnect logo

Indonesia Sedang Memasang Kabel Bawah Laut Berkapasitas Raksasa: Apa Artinya bagi Data Center Nasional?

Fiber Optic Solution

Aug 22, 2026

Indonesia Sedang Memasang Kabel Bawah Laut Berkapasitas Raksasa: Apa Artinya bagi Data Center Nasional?

Pada tanggal 20 Juli 2026, hanya sebulan yang lalu, Indonesia dan Singapura secara resmi menyelesaikan pendaratan kabel bawah laut Nongsa Changi Cable (NCC) di Batam. Bersamaan dengan proyek Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) Rising 8 sepanjang 1.128 kilometer yang menghubungkan Jakarta, Batam, dan Singapura dengan kapasitas 400 Terabit per detik, Indonesia sedang membangun tulang punggung digital yang akan mengubah posisi data center nasional di peta konektivitas Asia Tenggara secara signifikan.

Bagi para profesional IT, pemilik data center, penyedia layanan internet (ISP), system integrator, dan konsultan infrastruktur digital, dua proyek ini bukan sekadar berita infrastruktur biasa. Keduanya menandai pergeseran struktural dalam cara Indonesia terhubung dengan hub digital regional, sekaligus membuka peluang bisnis baru sekaligus tantangan teknis yang perlu dipahami sejak dini.

Mengenal Nongsa Changi Cable (NCC)

NCC adalah sistem kabel bawah laut sepanjang sekitar 50 kilometer yang menghubungkan Nongsa Digital Park (NDP) di Batam dengan kawasan Changi di Singapura melalui rute terpendek yang melintasi Selat Singapura. Proyek ini merupakan kolaborasi strategis antara Telkom melalui anak usahanya PT Telekomunikasi Indonesia Internasional (Telin), perusahaan infrastruktur digital Singapura BW Digital, dan Nongsa Digital Park.

Dari sisi spesifikasi teknis, kabel NCC memiliki kapasitas 24 pasang serat optik dan menurut pernyataan resmi dirancang untuk menghadirkan lebih dari 1,6 petabit per detik kapasitas baru dengan latensi di bawah 2 milidetik untuk konektivitas antar data center (DC to DC) menuju Singapura. Latensi ultra rendah ini penting karena semakin dekat jarak fisik antar node, semakin rendah pula waktu tunda pengiriman data, faktor krusial bagi beban kerja AI, komputasi awan, dan aplikasi real time.

Seremoni pendaratan NCC dihadiri pejabat tinggi kedua negara, termasuk Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dan Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Perdagangan dan Industri Singapura Gan Kim Yong. Meski sudah mendarat secara fisik, proses menuju operasional penuh masih berjalan. CEO Telin Abdul Rahman Ansyori menyatakan sistem ini ditargetkan beroperasi penuh pada akhir September 2026, dengan sejumlah perusahaan hyperscale sudah menunjukkan minat untuk memanfaatkan kapasitasnya.

Yang menarik bagi kalangan data center adalah integrasi langsung NCC dengan fasilitas kolokasi. Digital Realty bermitra dengan BW Digital untuk mengintegrasikan NCC dengan data center SIN12 milik Digital Realty di Singapura, memungkinkan konektivitas DC to DC lintas negara yang mulus bagi perusahaan yang berekspansi di Asia Tenggara. Di sisi Batam, BW Digital juga mengembangkan jaringan fiber optik darat Citra Connect serta kampus pusat data NDP1 dengan kapasitas kelistrikan mencapai 144 megawatt.

SKKL Rising 8: Jalur Baru Jakarta ke Singapura via Batam

Jika NCC berfokus pada segmen Batam ke Singapura, SKKL Rising 8 menghadirkan skala yang jauh lebih besar. Rising 8 adalah sistem kabel laut sepanjang 1.128,5 kilometer yang menghubungkan Jakarta di Tanjung Pakis, Batam di Tanjung Bemban, hingga ekstensi menuju Singapura. Proyek ini dikembangkan oleh PT Ketrosden Triasmitra Tbk melalui anak usahanya PT Jejaring Mitra Persada, bekerja sama dengan PT Mora Telematika Indonesia Tbk (Moratelindo).

Secara teknis, Rising 8 mengadopsi teknologi repeatered submarine cable system berkapasitas tinggi dengan total kapasitas mencapai 400 Terabit per detik, menggunakan kabel produksi Norddeutsche Seekabelwerke GmbH asal Jerman yang diperkuat 11 unit repeater dari Alcatel Submarine Networks Prancis, dan mendukung 16 pasang serat optik. Setiap pasang serat optik mampu membawa kapasitas hingga 25 Terabit per detik.

Penggelaran dimulai Januari 2026 menggunakan kapal berbendera Indonesia, Cable Laying Vessel Bentang Bahari, dengan segmen pertama Jakarta ke Batam sepanjang 1.053,5 kilometer. Segmen ini telah rampung dibangun pada Mei 2026, dan seremoni pengoperasiannya digelar pada 17 Juni 2026, sementara segmen Batam ke Singapura menjadi tahap pengembangan berikutnya.

Poin penting bagi pemilik data center adalah integrasi langsung Rising 8 dengan fasilitas pusat data domestik. Rising 8 terintegrasi dengan Nusantara Data Center milik MoraRepublic di Tanjung Bemban, Batam, yang telah mengantongi sertifikasi Tier 3 dari American National Standards Institute atau Telecommunications Industry Association. Titik pendaratan utama di Jakarta juga dilengkapi Cable Landing Station serta data center di Tanjung Pakis milik Triasmitra dengan spesifikasi Tier 3 concurrently maintainable.

Nilai investasi proyek ini pun tidak kecil. Triasmitra mengalokasikan sekitar USD 350 juta untuk segmen Jakarta ke Batam dan USD 80 juta untuk segmen Jakarta ke Singapura.

Mengapa Ini Terjadi Sekarang: Momentum AI dan Kedaulatan Digital

Kedua proyek ini tidak lahir dalam ruang hampa. Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan Indonesia sedang memasuki era transformasi digital yang ditandai kebutuhan konektivitas cepat untuk mendukung perkembangan AI, dengan kapasitas NCC yang mencapai 1,6 petabit per detik dan latensi di bawah dua milidetik.

Momentumnya juga bersinggungan dengan agenda regional. Wakil Perdana Menteri Singapura Gan Kim Yong menyoroti bahwa waktu pelaksanaan proyek ini sangat strategis karena bertepatan dengan persiapan negara negara ASEAN menandatangani ASEAN Digital Economy Framework Agreement pada 2026, kesepakatan yang bertujuan memperlancar perdagangan digital dan arus data lintas batas di kawasan.

Dari sisi domestik, proyek Rising 8 juga dikaitkan dengan agenda kedaulatan digital nasional. Kementerian Komunikasi dan Digital menyebut SKKL Rising 8 sebagai bagian dari misi Asta Cita pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka, khususnya dalam peningkatan kualitas akses digital. Sementara itu, direktur utama Triasmitra menekankan bahwa Rising 8 menandai era baru kemandirian Indonesia di sektor kabel laut karena untuk pertama kalinya penggelaran dilakukan secara mandiri sejak proses perizinan, penggunaan kapal, hingga tenaga ahlinya.

Dampak Konkret bagi Ekosistem Data Center Nasional

Pertama, redundansi rute. Selama ini konektivitas Indonesia ke Singapura sangat bergantung pada sejumlah sistem kabel lama yang sudah beroperasi lebih dari satu dekade. Rising 8 dirancang berfungsi sebagai jalur alternatif, baik domestik maupun internasional, bagi penyelenggara layanan gerbang akses internet yang sudah eksis, sehingga menyediakan redundansi yang krusial untuk menjaga stabilitas infrastruktur digital nasional. Bagi ISP dan operator data center, redundansi jalur berarti risiko downtime akibat gangguan kabel tunggal berkurang drastis.

Kedua, penguatan Batam sebagai gateway digital. Pendaratan NCC memperkuat posisi Batam sebagai gerbang digital utama Indonesia dan destinasi data center nearshore yang menarik bagi perusahaan berbasis di Singapura yang menghadapi keterbatasan lahan dan pasokan listrik. Kepala BP Batam Amsakar Achmad menekankan bahwa proyek ini bukan sekadar infrastruktur kabel, melainkan penegasan posisi Batam di peta digital kawasan, sekaligus simbol kolaborasi Indonesia dan Singapura membangun ekosistem digital yang tangguh dan berkelanjutan.

Ketiga, dukungan langsung untuk beban kerja AI dan hyperscale. Kombinasi latensi rendah, kapasitas besar, dan integrasi langsung ke fasilitas data center bersertifikasi Tier 3 menjadikan koridor Jakarta Batam Singapura semakin kompetitif untuk menampung workload AI training, inference, dan layanan cloud skala besar yang sebelumnya lebih banyak terkonsentrasi di Singapura akibat keterbatasan lahan dan energi di negara tersebut.

Keempat, pertumbuhan kapasitas listrik pendukung. Airlangga menyebut kapasitas kelistrikan Batam saat ini mencapai 120 megawatt untuk menopang industri pusat data, dan akan terus ditingkatkan seiring pertumbuhan permintaan. Ini menjadi sinyal penting bagi konsultan dan system integrator yang tengah merancang kapasitas fasilitas baru di kawasan tersebut.

Yang Perlu Diperhatikan IT Profesional dan Konsultan

Bagi tim IT dan konsultan yang tengah merancang strategi konektivitas atau lokasi data center, ada beberapa hal praktis yang layak dicermati.

Pertama, timeline operasional penuh. NCC ditargetkan siap melayani pelanggan pada akhir September 2026, sementara segmen Rising 8 dari Batam ke Singapura masih dalam tahap pengembangan lanjutan setelah segmen Jakarta ke Batam beroperasi sejak Juni 2026. Perencanaan migrasi trafik atau kontrak kapasitas baru sebaiknya mempertimbangkan jadwal ini.

Kedua, pilihan titik pendaratan dan interkoneksi. Dengan munculnya cable landing station baru di Tanjung Pakis dan Tanjung Bemban, system integrator perlu mengevaluasi ulang peta jalur backhaul terestrial menuju fasilitas kolokasi utama di Jakarta dan Batam agar dapat memanfaatkan latensi rendah secara maksimal.

Ketiga, diversifikasi vendor kapasitas. Dengan hadirnya dua sistem baru dari operator berbeda, yaitu Telin bersama BW Digital untuk NCC, serta Triasmitra bersama Moratelindo untuk Rising 8, pelanggan enterprise kini memiliki lebih banyak opsi negosiasi harga dan kontrak dibandingkan sebelumnya ketika pasar didominasi segelintir penyedia kabel lama.

Keempat, kesiapan fasilitas kolokasi lokal. Fasilitas seperti Nusantara Data Center dan NDP1 di Batam, serta data center Tanjung Pakis di Jakarta, kini menjadi titik masuk strategis bagi perusahaan yang ingin memanfaatkan konektivitas baru ini tanpa harus membangun fasilitas dari nol.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa perbedaan utama antara NCC dan SKKL Rising 8. NCC menghubungkan Batam dan Singapura sepanjang sekitar 50 kilometer dengan fokus pada latensi ultra rendah untuk konektivitas DC to DC, sementara Rising 8 adalah sistem yang jauh lebih panjang, 1.128 kilometer, menghubungkan Jakarta, Batam, dan Singapura dengan kapasitas total 400 Terabit per detik.

Kapan kedua sistem ini sepenuhnya beroperasi. Segmen Jakarta ke Batam pada Rising 8 sudah beroperasi sejak Juni 2026, sedangkan NCC ditargetkan beroperasi penuh akhir September 2026. Segmen Batam ke Singapura pada Rising 8 masih dalam tahap pengembangan berikutnya.

Mengapa Batam menjadi fokus utama pengembangan data center. Batam menawarkan kombinasi lahan yang lebih luas, potensi energi terbarukan, kedekatan geografis dengan Singapura, serta dukungan kawasan ekonomi khusus digital seperti Nongsa Digital Park, yang secara kolektif membuatnya menjadi lokasi nearshore paling logis bagi ekspansi data center hyperscale di kawasan ini.

Kesimpulan

Pendaratan NCC dan operasionalisasi SKKL Rising 8 menandai babak baru posisi Indonesia dalam peta konektivitas digital Asia Tenggara. Bagi IT profesional, pemilik data center, ISP, system integrator, dan konsultan infrastruktur, kedua proyek ini menghadirkan opsi jalur baru yang lebih beragam, kapasitas yang jauh lebih besar, serta latensi yang mendukung kebutuhan AI dan cloud generasi mendatang. Yang perlu dilakukan sekarang adalah memetakan ulang strategi konektivitas dan lokasi fasilitas agar dapat memanfaatkan momentum infrastruktur ini secara maksimal begitu kedua sistem beroperasi penuh dalam beberapa bulan ke depan.