Kolaborasi Industri Kabel dan AI di Indonesia: Sinergi Teknologi Lokal dan Global
Oct 24, 2025
Kolaborasi Industri Kabel dan AI di Indonesia: Sinergi Teknologi Lokal dan Global
Indonesia sedang berada di titik penting dalam perjalanan transformasi digitalnya. Setelah sukses memperluas jaringan telekomunikasi dan internet ke berbagai pelosok negeri, kini langkah selanjutnya adalah membangun ekosistem kecerdasan buatan (AI) yang solid. Namun, AI tidak dapat berjalan sendirian. Ia membutuhkan “urat nadi” berupa infrastruktur kabel untuk mengalirkan data.
Kolaborasi antara industri kabel, operator jaringan, dan sektor AI kini menjadi kunci utama agar sistem digital Indonesia mampu mendukung layanan berbasis AI — mulai dari industri manufaktur, transportasi, hingga pemerintahan.
Mengapa Kolaborasi Kabel dan AI Penting
AI bekerja dengan prinsip data dan kecepatan. Data yang dihasilkan oleh perangkat, sensor, dan aplikasi harus dikirim dengan cepat ke pusat pemrosesan agar AI dapat belajar dan membuat keputusan.
Kabel fiber optik baik darat maupun bawah laut — memungkinkan proses itu terjadi dengan bandwidth besar dan latensi sangat rendah. Tanpa kabel yang kuat, sistem AI akan mengalami bottleneck, lambat memproses informasi, dan tidak bisa bekerja real-time.
Di sisi lain, perkembangan AI justru mendorong industri kabel untuk berinovasi. Permintaan terhadap kabel berkecepatan tinggi, tahan suhu ekstrem, dan mendukung edge computing semakin meningkat. Inilah hubungan saling menguatkan antara kedua sektor ini.
Kondisi Industri Kabel di Indonesia
Indonesia memiliki beberapa pemain besar dalam industri kabel yang berperan penting dalam menopang infrastruktur digital. Nama-nama seperti PT Voksel Electric Tbk, PT Sumi Indo Kabel Tbk, dan PT Supreme Cable Manufacturing & Commerce (Sucaco) telah lama menjadi tulang punggung pasokan kabel nasional.
Awalnya fokus pada sektor energi dan telekomunikasi umum, kini banyak perusahaan mulai mengembangkan produk kabel serat optik khusus untuk pusat data dan jaringan AI. Misalnya, kabel dengan spesifikasi low loss single mode dan multi-core fiber yang dapat mentransfer data hingga ratusan gigabit per detik tanpa gangguan.
Kolaborasi antara produsen lokal dan perusahaan global juga semakin meningkat. Sejumlah produsen Jepang, Korea, dan Eropa menjalin kerja sama teknologi dalam hal material, pelapisan anti-interferensi, serta sistem monitoring kabel berbasis sensor pintar.
Dukungan Operator dan Penyedia Layanan Data Center
Tidak hanya produsen kabel, operator jaringan dan penyedia layanan data center juga berperan penting. Telkom Indonesia, misalnya, melalui anak perusahaan NeutraDC, sedang memperluas jaringan pusat data di Batam, Cikarang, dan di luar negeri.
Perluasan ini tentu tidak mungkin terjadi tanpa kolaborasi dengan industri kabel dalam negeri. Pembangunan kabel bawah laut dan interkoneksi data center (DCI) harus dilakukan dengan koordinasi tinggi agar infrastruktur AI berjalan tanpa hambatan.
Operator lain seperti Biznet, Indosat Ooredoo Hutchison, dan XL Axiata juga sedang meningkatkan kapasitas fiber mereka untuk mendukung teknologi cloud, IoT, dan AI. Mereka membutuhkan kabel dengan daya tahan tinggi dan efisiensi transmisi maksimal.
Integrasi AI dalam Sistem Monitoring dan Maintenance Kabel
Menariknya, hubungan antara AI dan industri kabel kini tidak hanya satu arah. AI juga digunakan untuk mengoptimalkan kinerja jaringan kabel itu sendiri.
Banyak perusahaan kabel dan operator kini menerapkan AI-based monitoring system untuk mendeteksi gangguan, panas berlebih, atau potensi kerusakan pada jaringan secara otomatis. Misalnya, sistem dapat memprediksi titik lemah pada jaringan bawah laut sebelum terjadi gangguan besar.
Teknologi ini mengurangi downtime dan meningkatkan efisiensi perawatan. Bagi Indonesia yang memiliki ribuan kilometer kabel bawah laut, penerapan AI seperti ini menjadi investasi besar untuk menjaga keandalan sistem komunikasi nasional.
Kolaborasi Internasional dan Transfer Teknologi
Beberapa proyek besar yang melibatkan kerja sama global juga sedang berlangsung. Salah satunya adalah proyek kabel bawah laut Echo dan Apricot, yang dibangun oleh Google dan Meta Platforms untuk menghubungkan Indonesia, Singapura, Filipina, Guam, hingga Jepang.
Selain memperkuat koneksi global, proyek-proyek ini juga menjadi wadah transfer teknologi bagi teknisi dan perusahaan lokal. Banyak insinyur Indonesia kini terlibat langsung dalam proses desain dan instalasi sistem kabel berteknologi tinggi, termasuk integrasi dengan sistem AI untuk pengawasan dan optimasi jaringan.
Kolaborasi ini membuka peluang besar bagi industri lokal untuk naik kelas, tidak hanya sebagai pengguna teknologi, tetapi juga sebagai pencipta dan inovator.
Tantangan Kolaborasi Kabel–AI di Indonesia
Meski kolaborasi ini membawa banyak manfaat, sejumlah tantangan masih dihadapi:
-
Ketersediaan SDM berkompetensi ganda — Tenaga ahli yang memahami baik teknologi kabel maupun AI masih terbatas.
-
Standarisasi dan regulasi — Diperlukan panduan nasional yang menyatukan standar instalasi kabel dan sistem AI agar tidak tumpang tindih antar sektor.
-
Investasi besar dan jangka panjang — Proyek infrastruktur kabel AI-ready membutuhkan modal besar dan waktu panjang sebelum menghasilkan keuntungan.
Namun, dengan meningkatnya kebutuhan data AI dan transformasi industri 4.0, tantangan ini justru menjadi peluang besar untuk pengembangan kapasitas nasional.
Peran Pemerintah dan Dukungan Regulasi
Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan sejumlah kebijakan untuk mempercepat digitalisasi dan kesiapan AI. Melalui Peraturan Presiden No. 39 Tahun 2019 tentang Satu Data Indonesia dan Peta Jalan Strategi Nasional Kecerdasan Buatan 2020–2045, kolaborasi lintas sektor, termasuk industri kabel, menjadi salah satu fokus utama.
Program seperti Digital Talent Scholarship juga digencarkan untuk menyiapkan tenaga ahli baru di bidang AI, jaringan, dan telekomunikasi. Dengan demikian, kolaborasi antara industri kabel dan AI dapat tumbuh di atas fondasi sumber daya manusia yang kompeten.
Masa Depan Sinergi Kabel dan AI di Indonesia
Dalam lima tahun ke depan, tren menunjukkan bahwa AI akan semakin dekat dengan pengguna. Edge computing, smart manufacturing, dan otomatisasi kota (smart city) akan menjadi hal umum.
Untuk itu, jaringan kabel tidak lagi hanya dilihat sebagai infrastruktur pasif, tetapi sebagai komponen aktif dari sistem cerdas nasional. Kabel akan menjadi “jalur saraf” bagi AI yang menghubungkan sensor, server, dan manusia dalam satu sistem yang responsif.
Perusahaan kabel akan semakin berperan dalam mendesain solusi inovatif — seperti kabel pintar dengan chip pemantau, atau sistem manajemen jaringan berbasis machine learning.
Bersatu untuk Konektivitas Cerdas Indonesia
Kolaborasi antara industri kabel dan AI di Indonesia bukan sekadar kerja sama teknis, melainkan langkah strategis menuju kemandirian digital. Dengan menyatukan kekuatan produsen kabel, operator jaringan, penyedia data center, dan pengembang AI, Indonesia dapat menciptakan ekosistem digital yang tangguh dan berkelanjutan.
Sinergi ini akan menentukan posisi Indonesia dalam peta ekonomi digital dunia: bukan hanya sebagai konsumen teknologi, tetapi sebagai pemain global yang mampu menciptakan solusi AI dan infrastruktur kabel yang kompetitif.
Masa depan konektivitas Indonesia adalah masa depan di mana setiap kabel membawa bukan hanya data, tetapi kecerdasan dan nilai bagi bangsa.

