Perkembangan Kebutuhan Watt Data Center di Indonesia: Dorongan AI, Cloud, dan Tantangan Energi Nasional
Jan 25, 2026
Dalam satu dekade terakhir, data center telah bertransformasi dari sekadar infrastruktur pendukung teknologi menjadi fondasi utama ekonomi digital. Di Indonesia, lonjakan penggunaan layanan digital seperti e-commerce, fintech, cloud computing, serta Artificial Intelligence (AI) mendorong kebutuhan komputasi yang jauh lebih besar dibandingkan sebelumnya. Konsekuensi langsung dari pertumbuhan ini adalah meningkatnya kebutuhan watt data center di Indonesia secara signifikan.
Data center beroperasi selama 24 jam tanpa henti. Setiap peningkatan trafik digital, transaksi online, hingga pemrosesan data AI secara langsung berdampak pada konsumsi listrik. Karena itu, isu kebutuhan daya listrik kini menjadi salah satu topik strategis, tidak hanya bagi operator data center, tetapi juga bagi sektor energi nasional dan pemerintah.
Pertumbuhan Kapasitas Data Center dan Kebutuhan Daya
Indonesia saat ini berada pada fase ekspansi data center yang sangat agresif. Pada tahun 2024, total kapasitas listrik data center nasional diperkirakan telah mencapai sekitar 210 megawatt (MW). Angka ini meningkat tajam dibandingkan tahun-tahun sebelumnya dan mencerminkan minat investasi yang kuat dari pemain lokal maupun global.
Namun, angka 210 MW ini baru permulaan. Dalam konteks regional Asia Tenggara, Indonesia masih tergolong tertinggal dibandingkan Singapura atau Malaysia. Justru kondisi ini membuka peluang pertumbuhan yang sangat besar. Seiring kebijakan pemerintah terkait kedaulatan data dan meningkatnya kebutuhan layanan cloud lokal, kapasitas data center Indonesia diproyeksikan tumbuh hingga mencapai skala gigawatt dalam beberapa tahun ke depan.
Setiap megawatt kapasitas data center berarti ribuan server aktif yang membutuhkan pasokan listrik stabil. Tidak hanya untuk komputasi, tetapi juga untuk sistem pendinginan, keamanan, dan redundansi daya. Dengan kata lain, ketika industri data center tumbuh, kebutuhan listrik nasional ikut terdorong naik secara struktural.
Peran Artificial Intelligence dalam Lonjakan Konsumsi Listrik
Salah satu faktor utama yang mempercepat peningkatan konsumsi daya adalah adopsi Artificial Intelligence. Beban kerja AI, terutama yang berbasis GPU dan high-performance computing (HPC), membutuhkan energi jauh lebih besar dibandingkan aplikasi tradisional.
Jika sebelumnya satu rak server data center hanya membutuhkan sekitar 5–10 kilowatt, kini rak server untuk AI dapat mengonsumsi hingga 40–50 kilowatt. Dalam skala besar, perbedaan ini sangat signifikan. Sebuah data center AI-ready dapat mengonsumsi listrik setara dengan puluhan ribu rumah tangga.
Di Indonesia, tren penggunaan AI mulai terlihat di berbagai sektor, mulai dari perbankan, telekomunikasi, e-commerce, hingga pemerintahan. Setiap model AI yang dilatih dan dijalankan di pusat data lokal akan menambah tekanan terhadap kebutuhan watt data center secara keseluruhan.
Digitalisasi Nasional dan Beban Energi Jangka Panjang
Selain AI, digitalisasi layanan publik dan swasta juga menjadi faktor pendorong konsumsi energi. Layanan cloud, sistem ERP, aplikasi mobile, hingga platform streaming membutuhkan ketersediaan server yang selalu aktif. Dengan populasi lebih dari 270 juta jiwa dan penetrasi internet yang terus meningkat, Indonesia menghadapi lonjakan permintaan data yang luar biasa besar.
Setiap peningkatan aktivitas digital berarti server bekerja lebih keras, lebih lama, dan lebih banyak. Akibatnya, kebutuhan listrik data center bukan hanya meningkat secara linier, tetapi cenderung eksponensial. Tanpa perencanaan energi yang matang, lonjakan ini berpotensi membebani sistem kelistrikan nasional.
Tantangan Infrastruktur Listrik Nasional
Pertumbuhan kebutuhan watt data center di Indonesia menimbulkan tantangan besar bagi sektor energi. Data center membutuhkan pasokan listrik yang stabil, berkualitas tinggi, dan minim gangguan. Bahkan pemadaman singkat dapat menyebabkan kerugian finansial yang besar.
PLN sebagai penyedia listrik nasional harus memastikan kapasitas pembangkit dan jaringan distribusi mampu mengimbangi pertumbuhan ini. Beberapa proyeksi menyebutkan bahwa kebutuhan listrik data center Indonesia bisa mencapai antara 4 hingga 12 gigawatt dalam satu dekade ke depan, tergantung pada kecepatan adopsi teknologi digital dan AI.
Tantangan lainnya adalah lokasi. Sebagian besar data center saat ini terpusat di Jabodetabek, yang sudah memiliki beban listrik tinggi. Distribusi data center ke wilayah lain seperti Jawa Tengah, Batam, atau Indonesia Timur membutuhkan investasi infrastruktur energi yang tidak kecil.
Arah Menuju Green Data Center
Meningkatnya konsumsi listrik data center juga memunculkan kekhawatiran terhadap emisi karbon. Oleh karena itu, konsep green data center mulai menjadi fokus utama industri. Green data center dirancang untuk mencapai efisiensi energi tinggi dan mengurangi ketergantungan pada energi fosil.
Di Indonesia, upaya ini mulai terlihat melalui penggunaan energi terbarukan, peningkatan efisiensi pendinginan, serta optimalisasi Power Usage Effectiveness (PUE). PLN juga menyatakan kesiapan untuk memasok listrik berbasis energi baru dan terbarukan bagi pusat data, sebagai bagian dari transisi energi nasional.
Proyeksi Kebutuhan Watt Data Center Indonesia hingga 2030
Melihat tren saat ini, kebutuhan watt data center di Indonesia diperkirakan akan terus meningkat hingga 2030. Dorongan utama berasal dari AI, cloud computing, digitalisasi UMKM, serta migrasi data ke dalam negeri.
Jika tidak diimbangi dengan pengembangan pembangkit listrik dan energi terbarukan, lonjakan ini dapat menjadi tantangan serius bagi ketahanan energi nasional. Namun, jika dikelola dengan baik, pertumbuhan data center justru dapat menjadi katalis investasi energi bersih dan infrastruktur listrik modern.
Kesimpulan
Perkembangan kebutuhan watt data center di Indonesia adalah refleksi langsung dari kemajuan ekonomi digital. Dari ratusan megawatt saat ini menuju skala gigawatt dalam beberapa tahun ke depan, data center akan menjadi salah satu konsumen listrik terbesar di sektor industri.
Keberhasilan Indonesia dalam menghadapi tantangan ini sangat bergantung pada kolaborasi antara operator data center, penyedia energi, dan regulator. Dengan strategi yang tepat, pertumbuhan data center dapat berjalan seiring dengan ketahanan energi dan keberlanjutan lingkungan.

