DTC Netconnect logo

Solusi dan Kendala Listrik dalam Operasional Data Center di Indonesia

Data Center Solution

Jan 11, 2026

 

Pertumbuhan data center di Indonesia meningkat sangat pesat seiring dengan transformasi digital, adopsi cloud, artificial intelligence, dan kebutuhan penyimpanan data nasional. Namun di balik pertumbuhan tersebut, salah satu tantangan terbesar yang dihadapi industri data center adalah ketersediaan dan keandalan listrik.

Data center merupakan fasilitas dengan konsumsi energi yang sangat tinggi dan beroperasi 24 jam tanpa henti. Sedikit saja gangguan listrik dapat berdampak besar, mulai dari downtime layanan digital, kerugian finansial, hingga rusaknya reputasi penyedia layanan. Di Indonesia, kendala listrik menjadi isu struktural yang masih belum sepenuhnya teratasi, terutama di luar kawasan industri utama.

Karakteristik Kebutuhan Listrik Data Center

Data center membutuhkan pasokan listrik yang stabil, berkualitas tinggi, dan redundan. Tidak cukup hanya tersedia, listrik juga harus memiliki frekuensi dan tegangan yang konsisten. Fluktuasi kecil sekalipun dapat memicu kegagalan sistem.

Selain itu, data center modern memiliki Power Usage Effectiveness (PUE) yang sangat bergantung pada sistem pendinginan, server berkapasitas tinggi, dan infrastruktur pendukung seperti UPS serta battery energy storage. Artinya, kebutuhan listrik tidak hanya besar, tetapi juga terus meningkat seiring bertambahnya beban komputasi.

Keterbatasan Infrastruktur Listrik Nasional

Salah satu kendala utama adalah ketimpangan infrastruktur listrik antar wilayah. Meski Pulau Jawa memiliki sistem kelistrikan yang relatif stabil, wilayah lain seperti Sumatera bagian tertentu, Kalimantan, Sulawesi, hingga Indonesia Timur masih menghadapi keterbatasan kapasitas dan keandalan jaringan.

Banyak lokasi potensial data center akhirnya terpaksa dipusatkan di area tertentu saja. Hal ini menciptakan konsentrasi beban listrik yang tinggi dan meningkatkan risiko gangguan sistem jika terjadi masalah pada satu wilayah.

Kualitas Pasokan Listrik yang Belum Konsisten

Selain ketersediaan, kualitas listrik juga menjadi persoalan. Gangguan seperti voltage dip, harmonic distortion, dan micro blackout masih cukup sering terjadi di beberapa kawasan industri. Bagi data center, gangguan sekecil apa pun dapat menyebabkan:

  • Sistem server restart secara tidak terkontrol

  • Kerusakan perangkat elektronik sensitif

  • Beban berlebih pada UPS dan genset

  • Penurunan umur peralatan

Akibatnya, operator data center harus berinvestasi besar pada sistem proteksi tambahan, yang pada akhirnya meningkatkan biaya operasional.

Ketergantungan pada Genset dan Bahan Bakar Fosil

Sebagian besar data center di Indonesia masih mengandalkan genset berbahan bakar diesel sebagai sumber listrik cadangan. Walaupun efektif untuk kondisi darurat, ketergantungan ini menimbulkan beberapa kendala serius:

Pertama, biaya operasional genset sangat tinggi, terutama saat terjadi pemadaman listrik berkepanjangan. Kedua, genset memiliki dampak lingkungan yang signifikan, mulai dari emisi karbon hingga polusi suara. Ketiga, regulasi emisi yang semakin ketat dapat menjadi hambatan tambahan di masa depan.

Biaya Listrik yang Relatif Tinggi

Listrik merupakan salah satu komponen biaya terbesar dalam operasional data center. Tarif listrik industri di Indonesia, meskipun tergolong kompetitif di Asia Tenggara, tetap menjadi tantangan bagi data center berskala besar dengan konsumsi energi yang masif.

Selain tarif dasar, terdapat biaya tambahan seperti:

  • Biaya kapasitas daya besar

  • Investasi infrastruktur kelistrikan internal

  • Biaya pemeliharaan sistem cadangan

Kondisi ini membuat margin operasional data center menjadi semakin ketat, terutama bagi penyedia layanan colocation dan hyperscale.

Dampak Kendala Listrik terhadap Investasi Data Center

Ketidakpastian pasokan listrik berdampak langsung pada minat investor. Banyak investor global mensyaratkan jaminan pasokan listrik jangka panjang sebelum membangun data center berskala besar.

Jika kendala listrik tidak diatasi secara sistemik, Indonesia berisiko kalah bersaing dengan negara lain seperti Singapura, Malaysia, atau Thailand yang menawarkan ekosistem listrik lebih stabil dan terintegrasi dengan energi terbarukan.

Upaya Mitigasi oleh Operator Data Center

Untuk mengatasi berbagai kendala tersebut, operator data center di Indonesia menerapkan berbagai strategi, seperti:

Penggunaan sistem dual power feed dari sumber listrik berbeda, investasi pada UPS berkapasitas besar, serta pengembangan microgrid internal. Beberapa operator juga mulai mengadopsi sistem monitoring listrik berbasis AI untuk memprediksi potensi gangguan sebelum terjadi.

Namun, semua upaya ini membutuhkan biaya besar dan tidak dapat sepenuhnya menggantikan peran infrastruktur listrik nasional yang andal.

Kesimpulan

Kendala listrik masih menjadi tantangan fundamental dalam pengembangan data center di Indonesia. Mulai dari keterbatasan infrastruktur, kualitas pasokan, hingga tingginya biaya energi, semuanya berkontribusi terhadap kompleksitas operasional data center. Tanpa perbaikan sistemik, pertumbuhan industri ini akan menghadapi batasan serius di masa depan.