DTC Netconnect logo

Perbedaan Regulasi SNI 8799 Tahun 2026 Dibandingkan Regulasi Sebelumnya

Data Center Solution

Jan 07, 2026

 

Standar Nasional Indonesia (SNI) terus mengalami pembaruan untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi, kebutuhan industri, serta dinamika regulasi global. Salah satu standar yang menjadi perhatian banyak pelaku usaha adalah SNI 8799. Dengan diterbitkannya SNI 8799 Tahun 2026, muncul berbagai pertanyaan mengenai apa saja perbedaan regulasi ini dibandingkan versi sebelumnya dan bagaimana dampaknya terhadap implementasi di lapangan.

Artikel ini akan membahas secara komprehensif dan mudah dipahami mengenai perbedaan utama antara SNI 8799 Tahun 2026 dan regulasi sebelumnya. Pembahasan disusun secara SEO friendly, dengan struktur profesional namun tetap menggunakan bahasa yang sederhana agar relevan bagi pembaca dari berbagai latar belakang, baik teknis maupun non-teknis.

Sekilas Tentang SNI 8799

SNI 8799 merupakan standar yang disusun untuk memberikan acuan teknis dan operasional dalam penerapan praktik tertentu di sektor industri terkait. Sejak pertama kali diterapkan, SNI ini berfungsi sebagai pedoman untuk memastikan kualitas, keamanan, dan kesesuaian proses dengan ketentuan nasional.

Pada regulasi sebelumnya, SNI 8799 lebih menekankan pada aspek kepatuhan dasar dan keseragaman implementasi. Namun, seiring dengan meningkatnya kompleksitas industri dan tuntutan efisiensi, diperlukan pembaruan standar agar tetap relevan dan aplikatif.

Latar Belakang Pembaruan SNI 8799 Tahun 2026

Pembaruan SNI 8799 yang berlaku pada tahun 2026 tidak dilakukan tanpa alasan. Ada beberapa faktor utama yang mendorong revisi ini, antara lain:

Pertama, perkembangan teknologi yang semakin cepat menuntut adanya standar yang lebih adaptif. Regulasi lama dinilai belum sepenuhnya mengakomodasi praktik dan teknologi baru yang kini umum digunakan di industri.

Kedua, adanya kebutuhan harmonisasi dengan standar internasional. Banyak pelaku usaha Indonesia yang terlibat dalam rantai pasok global, sehingga standar nasional perlu diselaraskan agar tidak menjadi hambatan kompetitif.

Ketiga, evaluasi implementasi regulasi sebelumnya menunjukkan adanya area yang perlu diperjelas, baik dari sisi definisi, ruang lingkup, maupun mekanisme penilaian kepatuhan.

Perbedaan Ruang Lingkup Pengaturan

Salah satu perbedaan paling signifikan antara SNI 8799 Tahun 2026 dan regulasi sebelumnya terletak pada ruang lingkup pengaturannya.

Pada regulasi sebelumnya, ruang lingkup SNI 8799 cenderung lebih sempit dan fokus pada aktivitas inti tertentu. Hal ini sering kali menimbulkan interpretasi yang berbeda di antara pelaku industri.

Sementara itu, SNI 8799 Tahun 2026 memperluas ruang lingkup dengan memasukkan aspek pendukung yang sebelumnya belum diatur secara eksplisit. Pendekatan ini bertujuan untuk menciptakan standar yang lebih menyeluruh dan kontekstual terhadap kondisi operasional di lapangan.

Pendekatan Kepatuhan yang Lebih Fleksibel

Regulasi sebelumnya dikenal dengan pendekatan kepatuhan yang bersifat preskriptif. Artinya, pelaku usaha diwajibkan mengikuti ketentuan teknis secara detail dan seragam.

Dalam SNI 8799 Tahun 2026, pendekatan ini mulai bergeser ke arah risk-based dan performance-based compliance. Pelaku usaha diberikan ruang untuk menyesuaikan metode penerapan selama tetap memenuhi tujuan dan hasil yang ditetapkan oleh standar.

Perubahan ini dinilai lebih realistis dan aplikatif, terutama bagi perusahaan dengan skala dan karakteristik operasional yang berbeda-beda.

Penyesuaian Terminologi dan Definisi

Perbedaan lain yang cukup penting adalah penyesuaian terminologi dan definisi. Pada regulasi sebelumnya, terdapat beberapa istilah yang dianggap ambigu dan berpotensi menimbulkan multiinterpretasi.

SNI 8799 Tahun 2026 melakukan penyempurnaan dengan memberikan definisi yang lebih jelas dan konsisten. Selain itu, beberapa istilah baru diperkenalkan untuk mencerminkan praktik dan teknologi terkini.

Dengan definisi yang lebih tegas, diharapkan proses audit, evaluasi, dan implementasi dapat berjalan lebih efektif dan minim perbedaan persepsi.

Penguatan Aspek Dokumentasi dan Pelaporan

Jika dibandingkan dengan regulasi sebelumnya, SNI 8799 Tahun 2026 memberikan perhatian lebih besar pada aspek dokumentasi dan pelaporan.

Pada versi lama, dokumentasi sering diposisikan sebagai pelengkap. Akibatnya, banyak organisasi yang belum menjadikan dokumentasi sebagai bagian integral dari sistem pengelolaan.

Regulasi terbaru menekankan pentingnya dokumentasi sebagai alat pengendalian, evaluasi, dan peningkatan berkelanjutan. Namun, pendekatannya dibuat lebih proporsional agar tidak menambah beban administratif yang berlebihan.

Integrasi dengan Sistem Manajemen Lain

Perbedaan berikutnya terlihat pada tingkat integrasi dengan sistem manajemen lain yang sudah ada, seperti sistem manajemen mutu, keamanan, atau keberlanjutan.

SNI 8799 sebelumnya relatif berdiri sendiri, sehingga sering kali menimbulkan duplikasi proses di dalam organisasi.

Sebaliknya, SNI 8799 Tahun 2026 dirancang agar lebih mudah diintegrasikan dengan standar dan sistem manajemen lainnya. Hal ini memberikan nilai tambah bagi perusahaan karena dapat meningkatkan efisiensi dan konsistensi operasional.

Dampak Terhadap Pelaku Usaha

Pembaruan regulasi tentu membawa dampak langsung bagi pelaku usaha. Dari sisi positif, SNI 8799 Tahun 2026 memberikan fleksibilitas dan kejelasan yang lebih baik dibandingkan regulasi sebelumnya.

Namun demikian, pelaku usaha tetap perlu melakukan penyesuaian, baik dari sisi kebijakan internal, prosedur operasional, maupun peningkatan kompetensi sumber daya manusia.

Perusahaan yang proaktif dalam memahami perbedaan regulasi ini cenderung lebih siap dan mampu memanfaatkan SNI 8799 Tahun 2026 sebagai alat peningkatan daya saing.

Tantangan dalam Implementasi

Meskipun membawa banyak perbaikan, implementasi SNI 8799 Tahun 2026 juga memiliki tantangan tersendiri. Salah satunya adalah kebutuhan sosialisasi yang memadai agar seluruh pemangku kepentingan memiliki pemahaman yang sama.

Selain itu, perubahan pendekatan dari yang preskriptif ke lebih fleksibel menuntut kedewasaan organisasi dalam mengelola risiko dan kinerja. Tanpa pemahaman yang baik, fleksibilitas ini justru dapat disalahartikan.

Kesimpulan

Secara keseluruhan, perbedaan regulasi SNI 8799 Tahun 2026 dibandingkan regulasi sebelumnya menunjukkan arah pembaruan yang lebih adaptif, jelas, dan relevan dengan kebutuhan industri modern.

Perluasan ruang lingkup, pendekatan kepatuhan yang lebih fleksibel, penyempurnaan definisi, serta peningkatan integrasi dengan sistem manajemen lain menjadi poin pembeda utama dari versi sebelumnya.

Bagi pelaku usaha, memahami perubahan ini sejak dini merupakan langkah strategis untuk memastikan kepatuhan sekaligus meningkatkan efisiensi dan daya saing di tengah dinamika industri yang terus berkembang.